Tingkat pertumbuhan penderita AIDS di Indonesia cukup tinggi. Departemen Kesehatan (DEPKES) memprediksi pada tahun 2010 HIV/AIDS di Indonesia akan menjadi pandemi. Peningkatan infeksi HIV pada penyalahguna narkoba terjadi secara signifikan. Pada tahun 1999, peningkatannya mencapai 15%, tahun 2000 membengkak menjadi 40%, dan dua tahun kemudian, tepatnya 2002, telah mengembang menjadi 47,9%. Sementara itu, infeksi HIV pada donor darah secara nasional memperlihatkan besaranya kurang dari dua setiap per 10.000 kantong darah di awal 2001. Pada tiga tahun terakhir antara 1997-2000 infeksi HIV pada donor darah di Indonesia meningkat hingga sepuluh kali lipat.
Purwokerto, Kabupaten Banyumas Jawa Tengah (Jateng) menduduki ranking ke tiga di Jateng setelah Kota Semarang dan Solo dalam penyebaran dan korban meninggal akibat terinfeksi HIV/AIDS. Data yang terekam di Klinik VCT (Voluntary Counseling and Testing), jumlah penderita HIV/AIDS hingga 2008 mencapai 302, yakni terdiri 233 HIV dan 69 AIDS dengan jumlah korban meninggal 36 orang. YTM Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kab. Banyumas, Puji Astuti mengatakan, jelas jumlahnya lebih dari yang sudah terdata saat ini. Banyumas menduduki ranking ke tiga setelah Semarang dan Solo".
Di Cilacap HIV/AIDS hingga Juni 2008 jumlah penderitanya mencapai 79 orang dengan rincian 56 orang terkena HIV dan 23 orang AIDS. "Dari jumlah penderita AIDS tersebut, sebanyak 21 orang meninggal dunia," kata anggota Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Cilacap, Nolly Sudrajat.
Namun angka tersebut sangat berpotensi mengalami kenaikan yang signifikan karena berdasarkan estimasi populasi berisiko yang telah dipublikasikan oleh KPA Kab. Cilacap, diperkirakan sebanyak 333 orang. (A-99/kur).
Jumlah tersebut dikarenakan di daerah Banyumas dan sekitarnya masih ada tempat-tempat yang menyediakan PSK untuk hanya sekedar memuaskan nafsu syahwatnya saja. Seperti halnya Gang Sadar di Baturaden Purwokerto adalah suatu tempat yang menyediakan fasilitas untuk melayani seksual. Padahal itu sangat bertentangan dengan norma-norma yang berlaku bahkan dengan agama sekalipun. Daerah tersebut sangat rapi bahkan berbentuk seperti perumahan. Untuk menjaga penularan HIV/AIDS mereka menerapkan sistem pengamanan setiap saat mereka berhubungan seks dengan pelanggannya. Padahal satpam yang menjaga pintu gerbang tersebut telah memberikan kondom kepada setiap PSK yang hendak berhubungan seks tetapi hal itu belum efektif untuk menekan angka penularan HIV, dikarenakan setiap PSK merasa berbeda saat mereka berhubungan dengan menggunakan kondom, mereka mengatakan tidak puas jika mereka menggunakan itu sehingga mereka tidak menggunakan kondom tersebut. Hal itulah yang menjadikan program tersebut tidak efektif sehingga penularan HIV pun menjadi tidak terkontrol. Tidak berbeda dengan di Gang Sadar tadi, di daerah Terminal Lama Purwokerto pun hampir setiap malam didatangi oleh waria-waria yang berdiri di samping jalan dengan maksud untuk menarik mata laki-laki agar menggunakan mereka untuk melakukan hubungan seksual.
Salah satu pencegahan HIV melalui transmisi seksual adalah dengan cara pemberian keagamaan kepada PSK dan waria, agar mereka yang melakukan hubungan seksual yang bebas bisa mengurangi bahkan tidak lagi melakukan hubungan seksual yang bebas lagi. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah ayat agar perempuan mennundukan pandangan dari apa yang tidak halal untuk dilihat yang berbunyi ”Katakanlah kepada kaum mukminin, hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka, yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah maha mengetahuiapa yang mereka perbuat. Katakanlah pada kaum mukminat, hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka...” (An-Nur: 30-31). Ayat tersebut tersirat hikmah yang menjelaskan bahwa dengan menundukan pandangan terhadap lawan jenis bisa nenurunkan pikiran untuk berbuat kotor yang mana akan menjurus ke hal-hal yang tidak diinginkan seperti hubungan seksual yang bebas.
Program keagamaan ini haruslah diselenggarakan untuk menanggulangi penyebaran HIV/AIDS yang tertular melalui hubungan seksusal. Salah satu dari program keagamaan ini adalah dengan cara memberikan ceramah keagamaan kepada PSK dan waria disetiap minggunya, konseling keagamaan ataupun yang bersifat umum, pemberian motivasi akan arti dari kehidupan dunia. Hal ini akan memberikan pemahaman kepada peserta bahwa hal yang dilakukannya adalah tidak benar, walaupun kebanyakan dari mereka mengatakan melakukan hubungan seksual yang bebas itu adalah sebagai mata pencahariannya. Tapi dalam hal ini tetap saja tidak dibenarkan oleh agama, karena masih banyak cara untuk mencari kehidupan dunia dengan cara yang lebih baik dibandingkan dengan melakukan hubungan seksual yang bebas. Program ini diharapkan akan memberikan dampak yang positif bagi rencana pencegahan HIV melalui transmisi seksual yaitu menurunkan angka penderita HIV yang ada di Kabupaten Banyumas Jawa Tengah (Jateng).