Oleh
Yuda Bhakti (G1B007091)
Perubahan iklim yang diakibatkan oleh pemanasan global, belakangan ini tampaknya menjadi salah satu isu hangat yang menjadi perhatian dunia. Salah satu penyebab dari pemanasan global adalah peningkatan gas rumah kaca (greenhouse effect). Menurut wikipedia, efek rumah kaca telah meningkatkan suhu bumi rata-rata 1 hingga 5 derajat Celciuls. Analogi sederhana untuk menggambarkan efek rumah kaca adalah ketika kita memarkir mobil di tempat parkir terbuka pada siang hari. Ketika kita kembali ke mobil di sore hari, biasanya suhu di dalam mobil lebih panas di bandingkan suhu di luar. Karena sebagian energi panas dari matahari telah di serap oleh kursi, dashboard dan karpet mobil. Ketika benda-benda tersebut melepaskan energi panas tersebut, tidak semuanya dapat keluar melalui jendela tetapi sebagian dipantulkan kembali. Penyebabnya adalah perbedaan panjang gelombang sinar matahari yang memasuki mobil dan energi panas yang dilepaskan kembali oleh kursi. Sehingga jumlah energi yang masuk lebih banyak dibandingkan energi yang dapat keluar. Akibatnya kenaikan bertahap pada suhu di dalam mobil.
Pemanasan global merupakan salah satu tanda bahwa bumi kita sudah terjadi penaikan suhu, diantaranya adalah peningkatan permukaan laut, habitat makhluk hidup pindah ke dataran lebih tinggi, keganjilan di daerah kutub, pelelehan es besar-besaran, satelit bergerak lebih cepat, ketinggian gunung berkurang, kebakaran hutan besar-besaran.
Peranan makhluk hidup khususnya manusia yang tinggal di muka bumi ini, sudah sepantasnya untuk menjaga kelestarian Bumi supaya Bumi tetap terjaga dan tidak terjadi pemanasan global yang salah satunya disebabkan oleh gas rumah kaca. Oleh karena itu, penggunaan alat peraga dari efek rumah kaca diharapkan akan meningkatkan pengetahuan masyarakat, khususnya masyarakat civitas akademika dalam berwawasan lingkungan supaya menjaga kelestarian Bumi.
Alat peraga dari efek rumah kaca ini pertama-tama membutuhkan alat-alat sebagai berikut: lima buah kaca berukuran 50 x 30 cm, dua buah kaca berbentuk segitiga sama sisi dengan panjang sisi-sisinya 50 cm, dua buah kaca berukuran 50 x 50 cm, pipa besi yang berbentuk lingkaran, dua belas buah bola lampu, dan sebuah gare seperti yang ada didalam jam yang digunakan oleh jam untuk memutar jarum jam tersebut, serta sebuah termometer.
Adapun cara pembuatannya adalah sebagai berikut:
1. Dua buah kaca yang berukuran 50 x 30 cm disatukan dan dibentuk sudut 60o dengan maksud dibuat seperti ini adalah untuk menyerupai atap dari sebuah rumah.
2. Dua buah kaca berbentuk segitiga sama kaki dengan panjang sisi-sisinya 50 cm ditempelkan di sisi-sisi dari kaca yang telah dibuat sebelumnya (seperti di cara yang pertama).
3. Dua buah kaca yang berukuran 50 x 30 cm di tempelkan di bawa kaca yang berbentuk sudut 60o (seperti di cara yang pertama).
4. Dua buah kaca yang berukuran 50 x 50 cm di tempelkan di sisi-sisi yang lainnya.
5. Sebuah kaca yang berukuran 50 x 30 cm di tempelkan di bagian bawah.
6. setelah kaca-kaca tersebut disatukan dan berbentuk menyerupai rumah, maka diletakan sebuah termometer dengan cara digantungkan didalamnya.
7. Sebuah pipa besi yang berbentuk setengah lingkaran di pasang di bagian luar, yang terlebih dahulu dibuat lubang dibagian tengahnya sebagai tempat untuk menyimpan bola lampu.
Setelah berbentuk seperti rumah maka alat peraga dari efek rumah kaca tersebut sudah jadi. Adapun cara kerja dari alat peraga tersebut adalah mengadopsi dari mekanisme efek rumah kaca yang ada di alam, dengan mekanisme sebagai berikut: pertama bola lampu dinyalakan, yang mana bola lampu tersebut diibaratkan sebagai matahari. Kemudian bola lampu tersebut menyala secara bergantian berjalan seiring dengan gare yang memutarkannya (mengikuti arah putar dari jarum jam) dan mengelilingi bentuk kaca yang telah dibuat menyerupai rumah. Cahaya dari bola lampu tersebut masuk kedalam rumah kaca yang ada di bawahnya, kemudian cahaya dari bola lampu tidak semuanya dikeluarkan dari rumah kaca tersebut dikarenakan perbedaan panjang gelombang, Sehingga jumlah energi yang masuk lebih banyak dibandingkan energi yang dapat keluar. Akibatnya secara bertahap suhu yang ada di dalam rumah kaca tersebut akan meningkat. Meningkatnya suhu yang ada di dalam rumah kaca tersebut dapat dilihat dari termometer yang dipasang di dalamnya.
Jumat, 17 Desember 2010
PENGGUNAAN KURSI RODA YANG ERGONOMIS DENGAN SISTEM HIDROLIK UNTUK MEMPERLUAS RUANG GERAK PENYANDANG CACAT
Oleh
Yuda Bhakti (G1B007091)
Peralatan yang tidak ergonomi akan berdampak buruk pada penggunanya. Seperti halnya kursi, jika kursi roda yang digunakan tidak ergonomi maka akan menimbulkan gangguan kesehatan. Untuk mengantisipasi adanya ketidakserasian antara kursi dengan ukuran tubuh penggunanya maka alternatif pemecahannya adalah dengan penerapan kursi yang sesuai (ergonomis) dengan postur tubuh. Tulisan ini akan membahas tentang kursi roda ergonomis dengan sistem hidrolik yang direkomendasikan untuk penyandang cacat. Penerapan kursi roda yang ergonomis dapat mencegah lebih dini berbagai gangguan kesehatan, membentuk sikap tubuh yang benar (posisi duduk), mengurangi kelelahan, lebih berkonsentrasi, dan akhirnya secara keseluruhan akan dapat meningkatkan sumber daya manusia untuk lebih berkualitas baik dari segi derajat kesehatannya maupun pada peningkatan produktivitas.
Kursi roda adalah alat bantu yang digunakan oleh orang yang mengalami kesulitan berjalan menggunakan kaki, baik dikarenakan oleh penyakit, cidera, maupun cacat. Alat ini bisa digerakan dengan didorong oleh pihak lain, digerakan dengan menggunakan tangan, atau dengan menggunakan mesin otomatis. Kursi roda untuk kebanyakan orang cacat adalah alat medis yang utama untuk bekerja, bergerak dan melakukan segala macam aktivitas-aktivitasnya.
Setelah melakukan perhitungan nilai persentil dan pemilihan bahan yang akan digunakan maka dapat dilakukan pembuatan kursi roda. Dari hasil pengolahan data dan perhitungan nilai persentil ada variabel yang dibuat adjustable sehingga dapat disesuaikan dengan dimensi tubuh penyandang cacat.
Produk kursi roda yang dibuat digerakan secara mekanis dengan menggunakan electro motor 5 watt 12 volt dan accu 12 volt. Penggerak pada kursi roda dilengkapi dengan tombol yang terdapat dibagian kiri dan kanan (terletak di tangan untuk penderita cacat kaki, dan terletak di kaki untuk penderita cacat tangan) kursi untuk memudahkan subyek dalam menggerakkan dan rem yang berfungsi untuk menahan kursi roda agar dapat berhenti dari pergerakannya.
Kursi roda dapat bergerak maju dengan menekan tombol yang terdapat di kiri dan kanan pada masing-masing sisi kursi tersebut. Sedangkan jika tombol kiri ditekan maka kursi dapat bergerak ke kiri dan sebaliknya. Kursi roda dapat bergerak dengan menggunakan kecepatan sebesar ± 3 km/jam karena kecepatan tersebut kurang lebih sama dengan kecepatan orang yang berjalan.
Alas tempat duduk dapat dilepas apabila ingin dibersihkan sehingga memudahkan penggunanya dalam membersihkan. Sandaran punggung, alas tempat duduk, sandaran tangan dan kepala menggunakan bahan oscar yang akan memudahkan pengguna untuk membersihkannya. Sandaran tangan, tinggi siku dan tinggi lutut dibuat adjustable sehingga dapat digunakan sesuai dengan dimensi tubuh penderita. Sandaran punggung dapat diatur kemiringannya, untuk alas tempat duduk dapat dilepas. Sandaran kaki dapat dilipat supaya tidak menghalangi penderita pada saat memijakkan kakinya untuk bangun maupun duduk di kursi. Pada bagian belakang sandaran kursi terdapat tempat yang merupakan tempat meletakkan accu dan dinamo. Selain itu tampak 2 buah roda pada sisi kiri dan 2 buah roda pada kanan bagian bawah kursi.
Adanya pegangan pada ujung samping kiri dan kanan bagian atas sandaran punggung yang digunakan sebagai pegangan tangan untuk memudahkan mendorong jika sewaktu-waktu mesin tidak berfungsi dengan baik. Adanya kabel yang dapat dihubungkan ke saluran listrik berfungsi sebagi charger baterai.
Kursi roda dilihat dari samping kiri maka akan terlihat tombol yang digunakan untuk mengerakan kursi roda ke samping kiri. Bagian samping tempat duduk kursi roda terdapat rem yang berfungsi agar kursi tidak bergerak. Rem yand dilengkapi handle sehingga mudah untuk digunakan, tapi apabila pengguna adalah penderita cacat tangan maka rem diletakkan di bagian kanan dekat pijakan kaki sehingga mempermudah penggunanya.
Apabila kursi roda dilihat dari samping kanan maka akan terlihat tombol yang digunakan untuk menggerakan kursi roda ke samping kanan.
Kursi roda ini berbeda dengan kursi roda yang lain salah satunya adalah menggunakan sistem hidrolik yang diletakkan di masing-masing kaki kursi roda. Sistem ini dapat digunakan dengan menekan tombol yang ada di sebelah ujung kanan atau kiri tangan untuk penderita cacat kaki, dan terletak di kaki untuk penderita cacat tangan. Tujuan dari penggunaan sistem hidrolik ini tidak lain adalah untuk mempermudah penggunanya ketika akan memakai kursi roda tersebut yaitu ketika pengguna dalam keadaan di bawah atau lebih rendah dari pada kursi roda maka pengguna tidak harus bersusah payah bangun untuk duduk dikursi tersebut, pengguna hanya cukup menekan tombol hidrolik, maka seketika kaki-kaki kursi roda tersebut akan turun dan memendek sehingga alas tempat duduk akan dekat dengan penggunanya sehingga akan mempermudah penggunanya untuk menaiki alas tempat duduk di kursi roda, dan ketika akan dikembalikan seperti semula maka cukup menekan kembali tombol tersebut. Penggunaan sistem hidrolik ini juga bermaksud ntuk menyesuaikan tinggi atau panjang kaki sampai lutut dengan menggunakan persentil 95 dan 5 sehingga orang yang pendek maupun yang mempunyai panjang kaki yang lebih panjang dapat menggunakannya tanpa adanya ketidaknyamanan dalam penggunaannya.
Yuda Bhakti (G1B007091)
Peralatan yang tidak ergonomi akan berdampak buruk pada penggunanya. Seperti halnya kursi, jika kursi roda yang digunakan tidak ergonomi maka akan menimbulkan gangguan kesehatan. Untuk mengantisipasi adanya ketidakserasian antara kursi dengan ukuran tubuh penggunanya maka alternatif pemecahannya adalah dengan penerapan kursi yang sesuai (ergonomis) dengan postur tubuh. Tulisan ini akan membahas tentang kursi roda ergonomis dengan sistem hidrolik yang direkomendasikan untuk penyandang cacat. Penerapan kursi roda yang ergonomis dapat mencegah lebih dini berbagai gangguan kesehatan, membentuk sikap tubuh yang benar (posisi duduk), mengurangi kelelahan, lebih berkonsentrasi, dan akhirnya secara keseluruhan akan dapat meningkatkan sumber daya manusia untuk lebih berkualitas baik dari segi derajat kesehatannya maupun pada peningkatan produktivitas.
Kursi roda adalah alat bantu yang digunakan oleh orang yang mengalami kesulitan berjalan menggunakan kaki, baik dikarenakan oleh penyakit, cidera, maupun cacat. Alat ini bisa digerakan dengan didorong oleh pihak lain, digerakan dengan menggunakan tangan, atau dengan menggunakan mesin otomatis. Kursi roda untuk kebanyakan orang cacat adalah alat medis yang utama untuk bekerja, bergerak dan melakukan segala macam aktivitas-aktivitasnya.
Setelah melakukan perhitungan nilai persentil dan pemilihan bahan yang akan digunakan maka dapat dilakukan pembuatan kursi roda. Dari hasil pengolahan data dan perhitungan nilai persentil ada variabel yang dibuat adjustable sehingga dapat disesuaikan dengan dimensi tubuh penyandang cacat.
Produk kursi roda yang dibuat digerakan secara mekanis dengan menggunakan electro motor 5 watt 12 volt dan accu 12 volt. Penggerak pada kursi roda dilengkapi dengan tombol yang terdapat dibagian kiri dan kanan (terletak di tangan untuk penderita cacat kaki, dan terletak di kaki untuk penderita cacat tangan) kursi untuk memudahkan subyek dalam menggerakkan dan rem yang berfungsi untuk menahan kursi roda agar dapat berhenti dari pergerakannya.
Kursi roda dapat bergerak maju dengan menekan tombol yang terdapat di kiri dan kanan pada masing-masing sisi kursi tersebut. Sedangkan jika tombol kiri ditekan maka kursi dapat bergerak ke kiri dan sebaliknya. Kursi roda dapat bergerak dengan menggunakan kecepatan sebesar ± 3 km/jam karena kecepatan tersebut kurang lebih sama dengan kecepatan orang yang berjalan.
Alas tempat duduk dapat dilepas apabila ingin dibersihkan sehingga memudahkan penggunanya dalam membersihkan. Sandaran punggung, alas tempat duduk, sandaran tangan dan kepala menggunakan bahan oscar yang akan memudahkan pengguna untuk membersihkannya. Sandaran tangan, tinggi siku dan tinggi lutut dibuat adjustable sehingga dapat digunakan sesuai dengan dimensi tubuh penderita. Sandaran punggung dapat diatur kemiringannya, untuk alas tempat duduk dapat dilepas. Sandaran kaki dapat dilipat supaya tidak menghalangi penderita pada saat memijakkan kakinya untuk bangun maupun duduk di kursi. Pada bagian belakang sandaran kursi terdapat tempat yang merupakan tempat meletakkan accu dan dinamo. Selain itu tampak 2 buah roda pada sisi kiri dan 2 buah roda pada kanan bagian bawah kursi.
Adanya pegangan pada ujung samping kiri dan kanan bagian atas sandaran punggung yang digunakan sebagai pegangan tangan untuk memudahkan mendorong jika sewaktu-waktu mesin tidak berfungsi dengan baik. Adanya kabel yang dapat dihubungkan ke saluran listrik berfungsi sebagi charger baterai.
Kursi roda dilihat dari samping kiri maka akan terlihat tombol yang digunakan untuk mengerakan kursi roda ke samping kiri. Bagian samping tempat duduk kursi roda terdapat rem yang berfungsi agar kursi tidak bergerak. Rem yand dilengkapi handle sehingga mudah untuk digunakan, tapi apabila pengguna adalah penderita cacat tangan maka rem diletakkan di bagian kanan dekat pijakan kaki sehingga mempermudah penggunanya.
Apabila kursi roda dilihat dari samping kanan maka akan terlihat tombol yang digunakan untuk menggerakan kursi roda ke samping kanan.
Kursi roda ini berbeda dengan kursi roda yang lain salah satunya adalah menggunakan sistem hidrolik yang diletakkan di masing-masing kaki kursi roda. Sistem ini dapat digunakan dengan menekan tombol yang ada di sebelah ujung kanan atau kiri tangan untuk penderita cacat kaki, dan terletak di kaki untuk penderita cacat tangan. Tujuan dari penggunaan sistem hidrolik ini tidak lain adalah untuk mempermudah penggunanya ketika akan memakai kursi roda tersebut yaitu ketika pengguna dalam keadaan di bawah atau lebih rendah dari pada kursi roda maka pengguna tidak harus bersusah payah bangun untuk duduk dikursi tersebut, pengguna hanya cukup menekan tombol hidrolik, maka seketika kaki-kaki kursi roda tersebut akan turun dan memendek sehingga alas tempat duduk akan dekat dengan penggunanya sehingga akan mempermudah penggunanya untuk menaiki alas tempat duduk di kursi roda, dan ketika akan dikembalikan seperti semula maka cukup menekan kembali tombol tersebut. Penggunaan sistem hidrolik ini juga bermaksud ntuk menyesuaikan tinggi atau panjang kaki sampai lutut dengan menggunakan persentil 95 dan 5 sehingga orang yang pendek maupun yang mempunyai panjang kaki yang lebih panjang dapat menggunakannya tanpa adanya ketidaknyamanan dalam penggunaannya.
PEMANFAATAN EKSTRAK MENIRAN (Phyllantus niruri) SEBAGAI IMUNOMODULATOR BAGI PENDERITA PENYAKIT HEPATITIS VIRUS B
Oleh
Yuda Bhakti (G1B007091)
Indonesia menduduki peringkat keempat di dunia dengan jumlah penduduk terbanyak. Jumlah penduduk yang besar membawa konsekuensi yang besar pula, mengingat beragam tindakan sosial, ekonomi, dan pendidikan serta budaya. Penduduk dengan golongan sosial, ekonomi, dan pendidikan menengah ke bawah dihadapkan pada berbagai masalah kesehatan, terutama terkait dengan gizi, penyakit menular, serta higieni sanitasi yang kurang. Sementara penduduk dengan golongan sosial ekonomi dan pendidikan menengah ke atas, juga mempunyai masalah kesehatan yang terkait dengan gaya hidup dan pola makan. Hepatitis menjadi masalah penting di Indonesia. Hal-hal seperti pola makan dan kebersihan turut mempengaruhi masalah hepatitis di Indonesia. Hepatitis merupakan peradangan pada hati yang disebabkan oleh banyak hal namun yang terpenting diantaranya adalah karena infeksi virus-virus hepatitis. Salah satunya adalah hepatitis B. Menurut WHO diperkirakan sepertiga penduduk dunia atau sekitar 2 miliar terpapar infeksi VHB lewat darah atau cairan tubuh, sekitar 5% dari penduduk dunia atau kira-kira 350 juta orang mengidap hepatitis B. Hampir 78% berdiam di Asia, dan 24-40% diantaranya akan menjadi hepatitis B kronik. Di Indonesia 20% penduduk sekitar 40 juta orang menderita hepatitis virus B, berarti secara epidemiologis Indonesia tergolong kelompok negara dengan risiko endemisitas tinggi. Sistem imun sangat jelas berhubungan dengan mekanisme pertahanan tubuh yang terdapat pada manusia. Hal ini berarti sistem imun mempunyai sifat sangat cepat tanggap dan bersifat sangat spesifik dal upaya pencegahan terhadap berbagi infeksi mikroorganisme yang menyerang tubuh. Oleh karena itu, untuk mengatasi masalah tersebut maka digunakan cara alternatif untuk meningkatkan sistem imun diantaranya tanaman meniran (Phyllantus niruri) yang memiliki aktivitas imunomodulator. Hampir semua bagian tanaman meniran berkhasiat sebagi obat. Banyak literatur yang menunjukkan bahwa secara turun temurun meniran dipercaya dapat menyembuhkan penyakit-penyakit yang terkait dengan saluran empedu dan berkhasiat menurunkan jumlah virus hepatitis B yang ditemukan dalam darah. Penelitian terbaru menyebutkan bahwa meniran memiliki aktivitas imunomodulator. Imunomodulator berperan membuat sistem imun lebih aktif dalam menjalankan fungsinya, menguatkan sistem imun tubuh (imunostimulator) atau menekan reaksi sistem imun yang berlebihan (imunosuppressan). Dengan demikian, kekebalan atau daya tahan tubuh kita selalu optimal sehingga tetap sehat ketika diserang virus, bakteri, dan mikroba lainnya. Kandungan kimia yang bermanfaat dari meniran adalah flavonoid. Pada tanaman lainnya kandungan flavonoid sebenarnya juga ada, bedanya pada meniran aktivitas peningkatan sistem imunnya ternyata lebih baik. Sebagai imunomodulator, meniran tidak semata-mata berefek meningkatkan sistem imun, namun juga menekan sistem imun apabila aktivitasnya berlebihan. Jika aktivitas sistem imun berkurang, maka kandungan flavonoid dalam meniran akan mengirimkan sinyal intraseluler pada reseptor sel untuk meningkatkan aktivitasnya. Sebaliknya jika sistem imun kerjanya berlebihan, maka meniran berkhasiat dalam mengurangi kerja sistem imun tersebut. Jadi, meniran berfungsi sebagai penyeimbang sistem imun. Selain kandungan flavonoid, meniran juga mengandung filantin, hipofilantin, kalium, damar, dan tanin. Filantin dan hipofilantin mempunyai efek sebagai hepatoprotektor. Konsep Pengobatan Herbal sangat berbeda dengan konsep pengobatan Modern (yang biasanya menggunakan Kimia Sintetis sebagai obat). Misalnya dalam pengobatan kimia sintetis penyebab penyakit adalah virus, bakteri, dan pathogen (mikro organisme pembawa penyakit); sedangkan dalam pengobatan herbal, penyebab penyakit adalah lemahnya sistem imun. Dengan menggunakan pengobatan herbal, maka diharapkan menjadi pillihan alternatif penanganan penyakit hepatitis B.
Kata Kunci: Meniran, imunomodulator, hepatitis
Yuda Bhakti (G1B007091)
Indonesia menduduki peringkat keempat di dunia dengan jumlah penduduk terbanyak. Jumlah penduduk yang besar membawa konsekuensi yang besar pula, mengingat beragam tindakan sosial, ekonomi, dan pendidikan serta budaya. Penduduk dengan golongan sosial, ekonomi, dan pendidikan menengah ke bawah dihadapkan pada berbagai masalah kesehatan, terutama terkait dengan gizi, penyakit menular, serta higieni sanitasi yang kurang. Sementara penduduk dengan golongan sosial ekonomi dan pendidikan menengah ke atas, juga mempunyai masalah kesehatan yang terkait dengan gaya hidup dan pola makan. Hepatitis menjadi masalah penting di Indonesia. Hal-hal seperti pola makan dan kebersihan turut mempengaruhi masalah hepatitis di Indonesia. Hepatitis merupakan peradangan pada hati yang disebabkan oleh banyak hal namun yang terpenting diantaranya adalah karena infeksi virus-virus hepatitis. Salah satunya adalah hepatitis B. Menurut WHO diperkirakan sepertiga penduduk dunia atau sekitar 2 miliar terpapar infeksi VHB lewat darah atau cairan tubuh, sekitar 5% dari penduduk dunia atau kira-kira 350 juta orang mengidap hepatitis B. Hampir 78% berdiam di Asia, dan 24-40% diantaranya akan menjadi hepatitis B kronik. Di Indonesia 20% penduduk sekitar 40 juta orang menderita hepatitis virus B, berarti secara epidemiologis Indonesia tergolong kelompok negara dengan risiko endemisitas tinggi. Sistem imun sangat jelas berhubungan dengan mekanisme pertahanan tubuh yang terdapat pada manusia. Hal ini berarti sistem imun mempunyai sifat sangat cepat tanggap dan bersifat sangat spesifik dal upaya pencegahan terhadap berbagi infeksi mikroorganisme yang menyerang tubuh. Oleh karena itu, untuk mengatasi masalah tersebut maka digunakan cara alternatif untuk meningkatkan sistem imun diantaranya tanaman meniran (Phyllantus niruri) yang memiliki aktivitas imunomodulator. Hampir semua bagian tanaman meniran berkhasiat sebagi obat. Banyak literatur yang menunjukkan bahwa secara turun temurun meniran dipercaya dapat menyembuhkan penyakit-penyakit yang terkait dengan saluran empedu dan berkhasiat menurunkan jumlah virus hepatitis B yang ditemukan dalam darah. Penelitian terbaru menyebutkan bahwa meniran memiliki aktivitas imunomodulator. Imunomodulator berperan membuat sistem imun lebih aktif dalam menjalankan fungsinya, menguatkan sistem imun tubuh (imunostimulator) atau menekan reaksi sistem imun yang berlebihan (imunosuppressan). Dengan demikian, kekebalan atau daya tahan tubuh kita selalu optimal sehingga tetap sehat ketika diserang virus, bakteri, dan mikroba lainnya. Kandungan kimia yang bermanfaat dari meniran adalah flavonoid. Pada tanaman lainnya kandungan flavonoid sebenarnya juga ada, bedanya pada meniran aktivitas peningkatan sistem imunnya ternyata lebih baik. Sebagai imunomodulator, meniran tidak semata-mata berefek meningkatkan sistem imun, namun juga menekan sistem imun apabila aktivitasnya berlebihan. Jika aktivitas sistem imun berkurang, maka kandungan flavonoid dalam meniran akan mengirimkan sinyal intraseluler pada reseptor sel untuk meningkatkan aktivitasnya. Sebaliknya jika sistem imun kerjanya berlebihan, maka meniran berkhasiat dalam mengurangi kerja sistem imun tersebut. Jadi, meniran berfungsi sebagai penyeimbang sistem imun. Selain kandungan flavonoid, meniran juga mengandung filantin, hipofilantin, kalium, damar, dan tanin. Filantin dan hipofilantin mempunyai efek sebagai hepatoprotektor. Konsep Pengobatan Herbal sangat berbeda dengan konsep pengobatan Modern (yang biasanya menggunakan Kimia Sintetis sebagai obat). Misalnya dalam pengobatan kimia sintetis penyebab penyakit adalah virus, bakteri, dan pathogen (mikro organisme pembawa penyakit); sedangkan dalam pengobatan herbal, penyebab penyakit adalah lemahnya sistem imun. Dengan menggunakan pengobatan herbal, maka diharapkan menjadi pillihan alternatif penanganan penyakit hepatitis B.
Kata Kunci: Meniran, imunomodulator, hepatitis
Kamis, 25 November 2010
PENCEGAHAN PENULARAN HIV MELALUI PEMBINAAN DI PONDOK PESANTREN
PENCEGAHAN HIV MELALUI PEMBINAAN DI PONDOK PESANTREN
Tingkat pertumbuhan penderita AIDS di Indonesia cukup tinggi. Departemen Kesehatan (DEPKES) memprediksi pada tahun 2010 HIV/AIDS di Indonesia akan menjadi pandemi. Peningkatan infeksi HIV pada penyalahguna narkoba terjadi secara signifikan. Pada tahun 1999, peningkatannya mencapai 15%, tahun 2000 membengkak menjadi 40%, dan dua tahun kemudian, tepatnya 2002, telah mengembang menjadi 47,9%. Sementara itu, infeksi HIV pada donor darah secara nasional memperlihatkan besaranya kurang dari dua setiap per 10.000 kantong darah di awal 2001. Pada tiga tahun terakhir antara 1997-2000 infeksi HIV pada donor darah di Indonesia meningkat hingga sepuluh kali lipat.
Pada awal mula penyakit ini berkembang di Indonesia, kelompok pengidap penyakit ini adalah orang-orang yang memiliki perilaku berganti-ganti pasangan dalam berhubungan seks. Kebanyakan penderita AIDS adalah mereka yang melakukan perilaku seks tidak sehat, yang dalam hal ini melanggar norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.
Karena belum ada obatnya, maka banyak masyarakat yang menganggap HIV/AIDS selalu berkaitan dengan perilaku yang tidak benar sehingga penderita AIDS dikucilkan dan didiskriminasi. Hal tersebut mengakibatkan beban psikososial (istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan berbagai emosi, kesehatan mental dan psikologis) yang dialami seorang penderita AIDS adakalanya lebih berat daripada beban fisiknya. Beban yang diderita pasien AIDS baik karena gejala penyakit yang bersifat organik maupun beban psikososial dapat menimbulkan rasa cemas, depresi, kurang percaya diri, putus asa, bahkan keinginan untuk bunuh diri. Sehingga upaya untuk mengantisipasi perkembangan HIV/AIDS mengalami kendala yang cukup berat dan tentunya menghambat upaya-upaya pencegahan dan perawatan
Salah satu cara untuk mengatasi permasalahan psikososial yang dihadapi oleh penderita AIDS (ODHA) adalah dengan memberikan dukungan spiritual. Bagi penderita yang terinfeksi akibat seksual bebas harus disadarkan agar segera bertaubat dan tidak menyebarkannya kepada orang lain dengan menjaga perilakunya serta meningkatkan kualitas hidupnya. Bagi seluruh penderita AIDS didorong untuk mendekatkan diri pada Tuhan, jangan berputus asa atau bahkan berkeinginan untuk bunuh diri dan beri penguatan bahwa mereka masih dapat hidup dan berguna bagi sesama antara lain dengan membantu upaya pencegahan penularan HIV/AIDS. Sebagai contoh dengan diadakannya suatu pondok pesantren khusus membina dan memupuk keimanan dari ODHA bahkan orang yang berhububngan dengannya seperti anak-anak serta keluarganya. Belum banyak pondok-pondok pesantren yang menangani masalah yang berkaitan dengan ODHA. Padahal pondok-pondok pesantren yang seperti inilah yang semestinya dikembangkan untuk memberikan kontribusi bagi proses ODHA untuk menjadi sadar dan tidak lagi melakukan hubungan seksual bebas lagi. Maka, dimungkinkan akan menurunkan angka penyebaran dan penularan HIV.
Seperti yang disebutkan dalam kitab suci Alquran yang artinya ”Jaganlah kalian sekali-kali mendekati zinah”. Dalam ayat tersebut telah dijelaskan bahwa hal-hal yang mendekati zinah saja sudah dilarang apalagi jika sesseorang melakukan zinah dengan sengaja dan bahkan dengan kesadaran, maka sudah pasti ada efek negatif yang ditimbulkan akibat dari berbuat zinah tersebut salah satunya adalah tertularnya HIV yang mana akan berdampak buruk terhadap kesehatannya bahkan diapun akan menularkannya lagi kepada yang lainnya seperti istri dan anak-anaknya. Maka, untuk menghindari hal yang semacam itu perlu adanya kajian dan dukungan terutama yang diberikan oleh anggota keluarga dan masyarakat sekitarnya. Hal ini sama hal dengan ayat lainnya yang berbunyi ”Jagalah anak-anakmu, istri-istrimu serta keluargamu dari api neraka”. Ayat tersebut menjelaskan untuk menjaga anak, istri, dan keluaga dari api neraka adalah salah satunya menjaga mereka dari hal-hal yang akan meningkatkan nafsu sahwatnya seperti memperlihatkan bentuk tubuhnya agar lawan jenis tertarik, berduaan dengan lawan jenis yang bukan mukhrimnya. Hal inilah yang akan memberi dampak kepada menurunnya angka penularan HIV/AIDS.
Tingkat pertumbuhan penderita AIDS di Indonesia cukup tinggi. Departemen Kesehatan (DEPKES) memprediksi pada tahun 2010 HIV/AIDS di Indonesia akan menjadi pandemi. Peningkatan infeksi HIV pada penyalahguna narkoba terjadi secara signifikan. Pada tahun 1999, peningkatannya mencapai 15%, tahun 2000 membengkak menjadi 40%, dan dua tahun kemudian, tepatnya 2002, telah mengembang menjadi 47,9%. Sementara itu, infeksi HIV pada donor darah secara nasional memperlihatkan besaranya kurang dari dua setiap per 10.000 kantong darah di awal 2001. Pada tiga tahun terakhir antara 1997-2000 infeksi HIV pada donor darah di Indonesia meningkat hingga sepuluh kali lipat.
Pada awal mula penyakit ini berkembang di Indonesia, kelompok pengidap penyakit ini adalah orang-orang yang memiliki perilaku berganti-ganti pasangan dalam berhubungan seks. Kebanyakan penderita AIDS adalah mereka yang melakukan perilaku seks tidak sehat, yang dalam hal ini melanggar norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.
Karena belum ada obatnya, maka banyak masyarakat yang menganggap HIV/AIDS selalu berkaitan dengan perilaku yang tidak benar sehingga penderita AIDS dikucilkan dan didiskriminasi. Hal tersebut mengakibatkan beban psikososial (istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan berbagai emosi, kesehatan mental dan psikologis) yang dialami seorang penderita AIDS adakalanya lebih berat daripada beban fisiknya. Beban yang diderita pasien AIDS baik karena gejala penyakit yang bersifat organik maupun beban psikososial dapat menimbulkan rasa cemas, depresi, kurang percaya diri, putus asa, bahkan keinginan untuk bunuh diri. Sehingga upaya untuk mengantisipasi perkembangan HIV/AIDS mengalami kendala yang cukup berat dan tentunya menghambat upaya-upaya pencegahan dan perawatan
Salah satu cara untuk mengatasi permasalahan psikososial yang dihadapi oleh penderita AIDS (ODHA) adalah dengan memberikan dukungan spiritual. Bagi penderita yang terinfeksi akibat seksual bebas harus disadarkan agar segera bertaubat dan tidak menyebarkannya kepada orang lain dengan menjaga perilakunya serta meningkatkan kualitas hidupnya. Bagi seluruh penderita AIDS didorong untuk mendekatkan diri pada Tuhan, jangan berputus asa atau bahkan berkeinginan untuk bunuh diri dan beri penguatan bahwa mereka masih dapat hidup dan berguna bagi sesama antara lain dengan membantu upaya pencegahan penularan HIV/AIDS. Sebagai contoh dengan diadakannya suatu pondok pesantren khusus membina dan memupuk keimanan dari ODHA bahkan orang yang berhububngan dengannya seperti anak-anak serta keluarganya. Belum banyak pondok-pondok pesantren yang menangani masalah yang berkaitan dengan ODHA. Padahal pondok-pondok pesantren yang seperti inilah yang semestinya dikembangkan untuk memberikan kontribusi bagi proses ODHA untuk menjadi sadar dan tidak lagi melakukan hubungan seksual bebas lagi. Maka, dimungkinkan akan menurunkan angka penyebaran dan penularan HIV.
Seperti yang disebutkan dalam kitab suci Alquran yang artinya ”Jaganlah kalian sekali-kali mendekati zinah”. Dalam ayat tersebut telah dijelaskan bahwa hal-hal yang mendekati zinah saja sudah dilarang apalagi jika sesseorang melakukan zinah dengan sengaja dan bahkan dengan kesadaran, maka sudah pasti ada efek negatif yang ditimbulkan akibat dari berbuat zinah tersebut salah satunya adalah tertularnya HIV yang mana akan berdampak buruk terhadap kesehatannya bahkan diapun akan menularkannya lagi kepada yang lainnya seperti istri dan anak-anaknya. Maka, untuk menghindari hal yang semacam itu perlu adanya kajian dan dukungan terutama yang diberikan oleh anggota keluarga dan masyarakat sekitarnya. Hal ini sama hal dengan ayat lainnya yang berbunyi ”Jagalah anak-anakmu, istri-istrimu serta keluargamu dari api neraka”. Ayat tersebut menjelaskan untuk menjaga anak, istri, dan keluaga dari api neraka adalah salah satunya menjaga mereka dari hal-hal yang akan meningkatkan nafsu sahwatnya seperti memperlihatkan bentuk tubuhnya agar lawan jenis tertarik, berduaan dengan lawan jenis yang bukan mukhrimnya. Hal inilah yang akan memberi dampak kepada menurunnya angka penularan HIV/AIDS.
Langganan:
Komentar (Atom)